banner 728x250

Marie Duplessis, Tokoh Nyata di Balik Opera La Traviata

Dari Alphonsine Rose Plessis hingga Marguerite Gautier—potret perempuan muda yang hidup singkat, penuh kontroversi, dan abadi dalam sejarah sastra serta opera dunia.

Ilistrasi Marie Duplessis
Ilistrasi Marie Duplessis

Paris, abad ke-19. Di balik gemerlap opera La Traviata dan novel La Dame aux Camélias, tersimpan kisah nyata seorang perempuan muda bernama Marie Duplessis. Lahir dengan nama Alphonsine Rose Plessis pada 15 Januari 1824, ia meninggal dunia pada usia yang sangat muda—23 tahun—namun meninggalkan jejak abadi dalam sejarah seni dan sastra Barat.

Kehidupan Marie bukan sekadar romansa tragis. Ia adalah potret kompleks tentang perjuangan, kecerdasan, dan pilihan seorang perempuan dalam masyarakat yang sangat membatasi peran perempuan.

Dari Kemiskinan Menuju Pusat Kehidupan Sosial Paris

Marie Duplessis lahir di Nonant-le-Pin, Normandy, dalam keluarga miskin. Masa kecilnya diwarnai kekerasan dan keterlantaran; bahkan, menurut sejumlah catatan, ia pernah “dijual” oleh ayahnya. Sebagai remaja, Marie melarikan diri ke Paris—kota yang kelak mengubah nasibnya.

Di ibu kota Prancis itu, Alphonsine Rose Plessis mendidik dirinya sendiri, mempelajari etiket, sastra, dan percakapan kelas atas. Ia kemudian menciptakan identitas baru: Marie Duplessis, seorang courtesan (pendamping elite) yang dikenal bukan hanya karena kecantikannya, tetapi juga kecerdasan, selera seni, dan kecakapan sosialnya.

Marie menjadi tuan rumah salon populer yang dihadiri seniman, penulis, dan politisi. Ia cepat naik ke lingkaran elite Paris, sebuah pencapaian luar biasa bagi perempuan muda dari latar belakang miskin.

Kamela: Simbol Ikonik Marie Duplessis

Salah satu ciri khas Marie Duplessis adalah bunga kamelia. Biografer Julie Kavanagh mencatat bahwa tagihan toko bunga membuktikan obsesi Marie terhadap bunga ini. Sebuah mitos populer menyebutkan bahwa Marie mengenakan kamelia merah sebagai tanda ia sedang “tidak tersedia” bagi para kekasihnya, sementara kamelia putih menandakan sebaliknya.

Simbol ini kemudian menjadi ikon budaya yang melekat kuat pada tokoh fiksi yang terinspirasi darinya.

Cinta, Hubungan, dan Pernikahan Kontroversial

Kehidupan Marie Duplessis juga bersinggungan dengan sejumlah tokoh besar Eropa:

Alexandre Dumas fils, novelis dan dramawan, yang menjalin hubungan dengannya pada 1844–1845. Dari kisah inilah lahir novel La Dame aux Camélias.

Franz Liszt, komposer legendaris, yang sangat terpesona oleh Marie dan konon ingin hidup bersamanya.

Count Édouard de Perregaux, bangsawan Prancis yang menikahinya di Inggris pada 1846, meski pernikahan ini tidak diakui secara hukum di Prancis.

Count Gustav Ernst von Stackelberg, seorang diplomat tua yang bertindak sebagai pelindungnya.

Hubungan-hubungan ini menunjukkan posisi Marie yang unik: ia berada di pusat kekuasaan sosial, namun tetap rapuh secara hukum dan kesehatan.

Akhir Tragis dan Warisan Abadi

Marie Duplessis meninggal dunia pada 3 Februari 1847 akibat tuberkulosis, penyakit mematikan pada masa itu. Ia wafat dalam keadaan terlilit utang, dan pemakamannya berlangsung sederhana—jauh dari kemewahan hidup yang pernah ia jalani.

Namun, kematiannya justru menjadi awal keabadian namanya.

Alexandre Dumas fils mengabadikannya sebagai Marguerite Gautier, tokoh utama La Dame aux Camélias (1848), yang kemudian diadaptasi menjadi:

Drama panggung (1852)

Opera La Traviata karya Giuseppe Verdi (1853)

• Berbagai film dan balet, termasuk film klasik Camille (1936) yang dibintangi Greta Garbo

Realitas vs Fiksi: Siapa Marie Duplessis Sebenarnya?

Menurut Julie Kavanagh, sosok Marie Duplessis dalam kehidupan nyata lebih “liar” dan mandiri dibandingkan versi fiksinya. Beberapa perbedaan utama antara Marie dan tokoh-tokoh rekaan yang terinspirasi darinya antara lain:

Latar Belakang

Fiksi sering menggambarkannya sudah mapan sebagai courtesan, sementara Marie nyata berasal dari masa kecil yang miskin dan penuh kekerasan.

Usia

Dalam banyak adaptasi, tokohnya terlihat lebih dewasa, padahal Marie meninggal di usia 23 tahun.

Agensi dan Pilihan Hidup

Tokoh fiksi sering digambarkan mengorbankan cinta demi norma sosial. Marie nyata, menurut sejarawan, adalah penyintas pragmatis yang memahami batasan zamannya dan tetap berusaha mengendalikan hidupnya sendiri.

Lebih dari Sekadar Inspirasi Tragedi

Marie Duplessis bukan hanya “wanita jatuh cinta yang tragis”. Ia adalah perempuan modern pada zamannya—cerdas, strategis, dan sadar akan posisi sosialnya. Dalam dunia yang membatasi pilihan perempuan, ia memanfaatkan apa yang ia miliki untuk bertahan dan bersinar, meski hanya sebentar.

Lebih dari satu abad setelah kematiannya, kisah Marie Duplessis terus hidup, mengingatkan dunia bahwa di balik legenda seni yang indah, sering kali terdapat kehidupan nyata yang jauh lebih rumit dan manusiawi.

Editor : RDj

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *