Berdasarkan laporan resmi perusahaan, Telkomsel mencatat jumlah pelanggan seluler sebanyak 157,6 juta orang hingga Kuartal III 2025. Angka tersebut menegaskan posisi Telkomsel sebagai operator dengan basis pelanggan terbesar di Indonesia.
Jumlah ini sekaligus mencerminkan tingginya ketergantungan masyarakat terhadap layanan data seluler, baik untuk komunikasi, ekonomi digital, pendidikan, maupun hiburan.
“Pertumbuhan pelanggan dan trafik data menunjukkan transformasi digital Indonesia masih terus berjalan,” tulis Telkomsel dalam laporan kinerja kuartalan yang dipublikasikan kepada investor.
Estimasi Kerugian Kuota Data Hangus: Olah Data Publik
Sejumlah lembaga pemantau kebijakan publik pernah mengangkat isu kuota data yang tidak terpakai (data hangus) sebagai fenomena ekonomi digital. Salah satunya adalah Indonesia Audit Watch (IAW).
IAW memperkirakan kerugian masyarakat Indonesia akibat kuota internet hangus mencapai Rp 63 triliun per tahun. Angka ini merupakan estimasi makro nasional, bukan nilai kerugian individual.
Sementara itu, Survei APJII 2025 mencatat pangsa pasar Telkomsel sebesar 45,79%. Jika kedua data tersebut dipadukan secara proporsional, maka estimasi kerugian tahunan yang terkait dengan pelanggan Telkomsel berada di kisaran Rp 28,86 triliun per tahun.
Dengan total pelanggan 157,6 juta orang, nilai tersebut setara dengan sekitar Rp 15.260 per pelanggan per bulan.
“Angka ini merupakan estimasi rata-rata berbasis data agregat, bukan kerugian riil setiap individu,” jelas Indonesia Audit Watch dalam salah satu publikasinya terkait ekonomi digital.
Catatan penting:
Nilai ini bersifat perkiraan statistik, sangat bergantung pada pola pemakaian, jenis paket, dan perilaku pengguna. Tidak semua pelanggan mengalami kerugian dalam jumlah yang sama.
Harga Internet Fixed Broadband Indonesia di ASEAN
Jika dibandingkan secara regional, harga layanan internet Indonesia masih tergolong tinggi. Data 2025 menunjukkan bahwa Indonesia memiliki harga median fixed broadband tertinggi di ASEAN, yakni USD 0,41 per Mbps per bulan.
Sebagai perbandingan:
• Vietnam: USD 0,04 per Mbps
• Singapura: USD 0,03 per Mbps
• Thailand: USD 0,02 per Mbps
Kondisi ini sering dikaitkan dengan faktor geografis, investasi infrastruktur, serta tantangan pemerataan jaringan di negara kepulauan.
“Indonesia menghadapi tantangan unik karena wilayahnya luas dan berbentuk kepulauan, sehingga biaya pembangunan jaringan tidak bisa disamakan dengan negara lain,” ujar Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dalam laporan tahunannya.
Kecepatan Internet Mobile Indonesia dan Posisi Telkomsel
Dari sisi kecepatan, Indonesia menempati peringkat ke-8 di ASEAN dengan median kecepatan unduh 45,01 Mbps (Agustus 2025).
Sementara itu, berdasarkan Speedtest Awards 2025, performa jaringan Telkomsel tercatat sebagai berikut:
• Mobile (4G/5G gabungan): 45,89 Mbps
• 5G: 88,03 Mbps
Angka tersebut dinilai konsisten dengan rata-rata nasional, meski masih berada di bawah sejumlah negara tetangga seperti Vietnam, Malaysia, dan Singapura.
“Kecepatan jaringan di Indonesia menunjukkan tren peningkatan, terutama di wilayah urban dan cakupan 5G,” tulis Ookla® melalui Speedtest Awards 2025.
Gambaran Umum Industri Internet Indonesia
Secara keseluruhan, data per Januari 2026 menunjukkan beberapa poin penting:
• Basis pengguna seluler Indonesia sangat besar
• Harga internet fixed broadband relatif tinggi di kawasan
• Kecepatan mobile internet masih tertinggal dari mayoritas negara ASEAN
• Isu efisiensi pemanfaatan paket data masih menjadi perhatian publik
Seluruh temuan ini berasal dari data terbuka dan laporan resmi, serta disajikan sebagai bahan literasi digital dan pemahaman industri telekomunikasi nasional.
Kesimpulan
Dengan 157,6 juta pelanggan, Telkomsel memainkan peran sentral dalam ekosistem digital Indonesia. Olah data dari berbagai sumber menunjukkan adanya estimasi nilai ekonomi dari kuota yang tidak terpakai, sekaligus memperlihatkan tantangan harga dan kecepatan internet di tingkat regional.
Ke depan, transparansi, inovasi paket, serta perluasan infrastruktur menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya saing layanan internet Indonesia di ASEAN.
Referensi : teknologi.bisnis.com – katadata.id – digital.viva.id – seluler.id dan kompas.com
Editor : RDj

















