Pesawat carter jenis ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dilaporkan jatuh di lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, pada Sabtu pekan lalu. Hingga Rabu, tim SAR gabungan masih melakukan operasi pencarian dan evakuasi korban di medan terjal pegunungan. Berdasarkan manifes penerbangan, pesawat tersebut membawa tujuh awak dan tiga penumpang. Proses pencarian berlangsung intensif dengan melibatkan Basarnas, TNI, Polri, serta relawan, mengingat kondisi lokasi yang dipenuhi tebing dan jurang curam.
Tim SAR gabungan telah menemukan total tiga korban dalam operasi tersebut. Dua korban ditemukan lebih dahulu dan satu di antaranya telah teridentifikasi sebagai pramugari Florencia Lolita Wibisono, sementara satu korban lainnya masih menjalani proses identifikasi. Korban ketiga ditemukan pada Rabu siang di sekitar area tebing Gunung Bulusaraung. Kepala Basarnas RI, Marsekal Madya TNI (Purn) Mohammad Syafii, menyampaikan perkembangan terbaru pencarian korban. “Satu korban sudah diterima oleh keluarga, satu korban sedang diidentifikasi dan satu korban berhasil ditemukan dalam proses evakuasi,” ujar Syafii di kantor Basarnas Makassar. Ia menjelaskan bahwa seluruh temuan korban berada di area jurang, dengan kondisi sebagian berupa potongan tubuh.
Pada hari yang sama, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulawesi Selatan menyerahkan satu jenazah korban berjenis kelamin laki-laki kepada pihak keluarga. Jenazah tersebut teridentifikasi atas nama Deden Maulana sesuai data pada peti bernomor PM.62.B.02 dan selanjutnya diterbangkan ke Jakarta Selatan. Selain evakuasi korban, tim SAR juga menemukan potongan tubuh lain berupa tangan di sekitar lokasi jatuhnya pesawat, berjarak sekitar 70 meter dari titik penemuan korban pertama yang ditemukan sebelumnya. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa benturan keras terjadi saat pesawat menghantam lereng gunung.
Di sisi lain, tim SAR gabungan berhasil menemukan kotak hitam atau black box pesawat di area ekor yang masih utuh. Asisten Operasi Kodam XIV/Hasanuddin Kolonel Inf Dody Triyo Hadi memastikan perangkat penting tersebut berada pada posisinya dan tidak terlepas dari badan pesawat. “Potongan ekor tersebut dan di dalamnya berada di posisinya, tidak terlepas, berada di dalam ekor tersebut,” kata Dody di Posko SAR Tompo Bulu. Kotak hitam itu telah diserahkan kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk keperluan investigasi penyebab kecelakaan.
Penulis/Editor : RDj

















