banner 728x250

Baterai Lithium Diduga Jadi Pemicu, Begini Penjelasan Agung Sasongko Jati

IMG 2099 Compressed 2025 12 13 153846
3D render of a drone flying above the clouds

Jakarta Pusat– Kebakaran hebat melanda gedung kantorTerra Drone, Selasa (9/12/2025)yang berlokasi di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. Insiden tragis tersebut menyebabkan22 orang meninggal dunia, menjadikannya salah satu kebakaran gedung paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir di ibu kota.

Gedung yang terbakar diketahui merupakan kantor perusahaan penyedia layanan drone, termasuk drone berukuran besar yang digunakan untuk keperluan industri seperti penyemprotan (sprayer). Api dengan cepat melahap bagian dalam gedung dan menyulitkan proses evakuasi korban.

Baterai Lithium Diduga Penyebab Utama

Berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), aparat menemukan sejumlah barang bukti, salah satunya baterai lithium yang diduga kuat menjadi pemicu awal kebakaran.

“Diduga kuat penyebabnya adalah baterai lithium yang terbakar,” ujar pihak berwenang saat memberikan keterangan.

Penyelidikan awal menunjukkan kebakaran bermula dari area penyimpanan baterai drone, yang kemudian menyebar dengan cepat akibat karakteristik baterai lithium yang mudah memicu api besar.

Karakteristik Baterai Drone Berisiko Tinggi

Baterai lithium yang digunakan untuk drone industri memiliki ukuran dan kapasitas besar. Satu unit baterai dapat memiliki berat sekitar 5 kilogram, dengan spesifikasi 22.000 mAh, terdiri dari 14 sel, masing-masing bertegangan 3,7 hingga 3,9 volt.

Baterai jenis ini dirancang untuk menghasilkan daya besar, namun juga memiliki risiko tinggi apabila tidak ditangani dan disimpan dengan benar.

Ancaman Thermal Runaway

Ahli keselamatan menjelaskan bahwa baterai lithium dapat mengalami thermal runaway, yaitu kondisi ketika suhu baterai meningkat secara tidak terkendali. Kondisi ini bisa dipicu oleh:

• Pengisian daya berlebih (overcharging)

• Pengosongan daya berlebihan (overdischarge)

• Korsleting

• Kerusakan fisik

• Paparan suhu tinggi

“Satu kata, panas. Baterai ini saat digunakan akan menghasilkan panas,” jelas Marsma TNI (Purn) Agung Sasongko Jati.

Ketika satu sel baterai terbakar, api dapat dengan cepat merambat ke sel lain, menyebabkan ledakan beruntun yang sulit dikendalikan.

Kesulitan Pemadaman Api

Kebakaran yang melibatkan baterai lithium dikenal sulit dipadamkan. Penggunaan alat pemadam api ringan (APAR) konvensional atau air dinilai kurang efektif.

“Air hanya mematikan api luar,” jelas Agung.

Reaksi kimia di dalam sel baterai tetap berlangsung meskipun api di permukaan terlihat padam. Oleh karena itu, diperlukan APAR tipe D khusus lithium atau metode isolasi seperti penimbunan dengan pasir untuk menghentikan reaksi panas secara menyeluruh.

Pentingnya Perawatan dan Penyimpanan Baterai

Para ahli menekankan bahwa baterai lithium yang tidak dirawat dengan baik memiliki potensi tinggi untuk terbakar. Prosedur penyimpanan yang disarankan antara lain:

• Tidak menyimpan baterai yang sudah rusak

• Menjaga suhu ruang penyimpanan di bawah 25°C

• Menyimpan baterai di wadah aman, seperti drum besi berisi pasir sebagai isolator

Rekomendasi Keselamatan

Untuk mencegah kejadian serupa, pengguna dan perusahaan drone disarankan:

1. Tidak menggunakan atau menyimpan baterai yang rusak

2. Menggunakan sarung tangan tahan api saat menangani baterai

3. Menyediakan alat khusus untuk memindahkan baterai dengan aman

4. Mengelola ruang penyimpanan baterai dengan standar tinggi

“Perlakukan gudang baterai seperti gudang BBM,” tegas Agung dalam sebuah wawancara dengan TVOne.

Gambar : Freepik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *