banner 728x250

BGI: Raksasa Genomik China yang Disebut Bisa Lampaui Huawei dan Ancam Keamanan AS

8489AC24 BA0E 4F7C A005 3F5EE054BC61

China dikenal sebagai pesaing kuat bagi Amerika Serikat di berbagai bidang. Baru-baru ini, senator Demokrat Mark Warner mengingatkan tentang kekuatan teknologi baru yang sedang dikembangkan oleh China.

Ia menyebutkan perusahaan yang bernama Beijing Genomics Institute (BGI), yang menurutnya dapat melebihi ukuran raksasa teknologi Huawei. “Jika Huawei sudah sebesar itu, maka BGI pasti akan lebih besar lagi,” ujarnya, seperti yang dilansir oleh CNBC International pada hari Minggu, 7 Desember 2025.


BGI bergerak di sektor genomik dan berasal dari lembaga riset yang disebut Beijing Genomics Institute. Perusahaan ini awalnya bertujuan untuk menciptakan proyek genom nasional sebelum akhirnya beralih ke kegiatan komersial.


Perusahaan tersebut mengumpulkan DNA dari dalam negeri maupun luar negeri. Mereka memproses data genetik untuk berbagai institusi, termasuk rumah sakit, perusahaan farmasi, dan peneliti di banyak negara.


Mereka menyediakan beragam layanan, mulai dari pengurutan DNA hingga tes prenatal, skrining kanker, serta analisis genetik untuk populasi besar.
Dengan kegiatan ini, BGI menjadi ancaman baru bagi AS. Pejabat intelijen setempat yakin BGI memiliki akses ke salah satu koleksi data genetik terbesar di dunia, dan para anggota parlemen mengingatkan bahwa data genetik bukan hanya informasi medis semata.


Washington Post melaporkan bahwa data genetik ini dapat menjadi aset strategis. Misalnya, informasi tersebut bisa mengungkap asal usul, ciri fisik, risiko sejumlah penyakit, dan hubungan keluarga. Selain itu, data genetik juga dapat dipakai untuk keperluan pengawasan, pelacakan, dan penelitian biologi jangka panjang, yang pada akhirnya berhubungan dengan masalah keamanan nasional.


Kekhawatiran terbesar terkait BGI dan bioteknologi China adalah potensi kehadiran tentara super yang dihasilkan dari modifikasi genetik. John Ratcliffe, yang menjabat sebagai Direktur Intelijen Nasional pada tahun 2020, pernah menyampaikan bahwa China sedang melakukan penelitian yang mencakup pengumpulan DNA populasi, basis data militer, dan permodelan kinerja manusia dengan bantuan AI.
Warner juga menyentuh kekhawatiran ini. Ia membandingkan situasi BGI dengan saat Huawei memproduksi produk berkualitas tinggi dengan harga kompetitif sebelum para pesaingnya siap bersaing.


“Jika kita melihat ke delapan atau sembilan tahun yang lalu, kebanyakan orang belum pernah mendengar tentang Huawei,” ujarnya.


Warner berpendapat bahwa intelijen AS lambat dalam mengenali potensi ancaman dari bioteknologi. Mereka dianggap kurang memperhatikan teknologi komersial dibandingkan dengan fokus pada pemerintah dan militer luar negeri. Demikian seperti dilansir dari CNBC Indonesia.

adm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *