Pesawat ATR 42-500 milik maskapai Indonesia Air Transport (IAT) dilaporkan hilang kontak dan kemudian jatuh setelah menabrak lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (17/1). Pesawat buatan tahun 2000 dengan nomor seri 611 itu sedang menjalani penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar. Lokasi dugaan jatuhnya pesawat berada di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Hingga Senin (19/1), tim SAR gabungan masih melakukan operasi pencarian terhadap korban serta kotak hitam pesawat guna mengungkap penyebab kecelakaan. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyatakan pesawat menabrak bukit atau lereng gunung sehingga badan pesawat hancur menjadi sejumlah serpihan.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memastikan kondisi pesawat dalam keadaan laik terbang sebelum insiden terjadi. Ia menegaskan bahwa aspek kelayakan merupakan syarat utama dalam operasional penerbangan. “Kalau layak terbang, iya, karena setiap pesawat yang dioperasikan syarat utamanya adalah layak terbang,” kata Dudy kepada wartawan di Posko Operasi SAR di Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Pangkep. Pernyataan ini disampaikan untuk merespons spekulasi publik terkait kondisi teknis pesawat sebelum kecelakaan. KNKT saat ini masih mengumpulkan data lapangan dan menunggu temuan kotak hitam untuk investigasi lebih lanjut.
Dalam proses pencarian, tim SAR gabungan telah menemukan dua korban. Korban pertama ditemukan pada Minggu (18/1) di kedalaman sekitar 200 meter dari puncak gunung dan diketahui berjenis kelamin laki-laki. Kepala Basarnas Makassar Muhammad Arif Anwar menjelaskan korban ditemukan sekitar pukul 14.20 WITA. Pada Senin (19/1), tim kembali menemukan satu korban berjenis kelamin perempuan di kedalaman sekitar 500 meter dari puncak Gunung Bulusaraung. Seluruh proses evakuasi menghadapi medan ekstrem dan cuaca yang berubah-ubah, sehingga memerlukan kehati-hatian tinggi.
Sementara itu, proses identifikasi korban terus dilakukan melalui posko ante mortem Biddokkes Polda Sulawesi Selatan. Keluarga kopilot Muhammad Farhan Gunawan mendatangi posko untuk memberikan sampel DNA. Kepala Biddokkes Polda Sulsel Kombes Pol Muhammad Haris menyampaikan, “Ada satu orang secara aktif mendatangi posko DVI Biddokes dengan memberikan keterangan tentang hubungannya dengan bersangkutan (korban), termasuk diambil sampel DNA-nya.” Selain itu, keluarga mengungkap smartwatch milik Farhan masih aktif dan merekam aktivitas langkah kaki setelah kejadian, sehingga diharapkan dapat membantu proses pencarian. Di sisi lain, keluarga pramugari Florencia Lolita Wibisono menyebut korban sempat melakukan panggilan video untuk meminta doa sebelum terbang. Total terdapat 10 orang dalam manifes penerbangan tersebut.
Penulis/Editor : RDj

















