JAKARTA – PT PLN (Persero) membukukan kinerja keuangan solid pada paruh pertama 2025. Perusahaan listrik negara itu mencatat laba usaha Rp30,6 triliun hingga Juni 2025, melampaui 31 persen target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP). Capaian ini juga lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu. Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menegaskan pencapaian tersebut tidak lepas dari perubahan pola kerja internal. “Pendekatan yang lebih business-like membuat PLN lebih adaptif terhadap dinamika eksternal,” ujar Darmawan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan komisi VI DPR RI (20/11/2025) lalu.
PLN mendorong laba melalui kenaikan penjualan dan pendapatan listrik. Hingga semester I-2025, volume penjualan listrik mencapai 155,62 TWh atau tumbuh 4,36 persen secara tahunan. Angka ini hampir menyentuh target RKAP 2025. Total pendapatan PLN tercatat Rp281,89 triliun atau naik 7,57 persen. Sektor rumah tangga menjadi penopang utama dengan kontribusi 43,14 persen, disusul sektor industri yang tetap tumbuh meski moderat.
Di balik kinerja positif tersebut, beban utang PLN ikut meningkat. Total kewajiban perusahaan per Juni 2025 mencapai Rp734,26 triliun, naik dari posisi akhir 2024. Ekonom Konstitusi Defiyan Cory menilai kenaikan utang perlu dilihat secara proporsional. “Utang korporasi tidak bisa disamakan dengan utang pribadi, apalagi untuk perusahaan dengan aset besar seperti PLN,” kata Defiyan, seraya menyebut rasio utang PLN masih relatif sehat.
Namun, kritik datang dari sejumlah kalangan. Pengamat BUMN Okky Setiawan dan anggota Komisi VI DPR RI Mufti Anam menilai lonjakan utang dan kasus pemadaman listrik menunjukkan lemahnya pengelolaan. Ke depan, PLN menghadapi tantangan menjaga kepercayaan publik, menekan biaya operasional, serta memastikan laba sejalan dengan layanan yang andal dan tata kelola keuangan yang transparan.
Editor : RDj














